Now Playing Tracks

Aydiya !: Blah-blah

gagasan:

Sebenarnya kata cinta bisa di ganti oleh kagum, benci, suka, dan segala sifat yang tidak bisa dijelaskan.

Apa yang dicinta ketika itu tidak ada, sebuah sosok dibutuhkan keberadaanya, agar kalimat ‘Aku, cinta kau.’ kongkrit memiliki arti. Selanjutnya adalah soal menjawab pertanyaan tentang ‘alasan’ dan ‘mengapa’ haruslah ada, baru kita dapat benar benar memahami kecintaan kita, dan merasakan cinta.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah semua itu benar?

Sosok dibutuhkan untuk adanya sebuah cinta, Atau cintalah yang dibutuhkan untuk memberikan sosok.

Kalau pernyataan pada paragraf pertama benar, maka seharusnya sosok lah yang dibutuhkan untuk sebuah cinta. Kalau kita mengambil pernyataan tadi sebagai sebuah kebenaran, maka haruslah menjadi sebuah sosok, menjadi ‘sesuatu’ untuk bisa mendapatkan cinta dan di cintai.

Sesuatu menjadi sebuah sosok ketika memiliki wujud, melakukan tindakan, dan segala hal lain yang dapat dikenali oleh indra dan hati kita. sosok, tindakan, dan segala hal lain itu lah yang membedakan satu dan lainya, dari sanalah timbul kagum, benci, senang, bahkan cinta.

Tapi muncul pertanyaan kembali, tapi toh ada yang di sakiti tapi tetap mencintai, tapi toh ada yang jahat, buruk, hina, dan tetap dicintai? apakah kerena pendefinisian sosok yang berarti itu tidak sama, atau ada hal lain. Hal lain yang mendorong manusia untuk menemukan, memperkaya, mengisi, hati dan jiwanya.

Jangan-jangan rasa cinta itu dibangun, bukan terbangun. Cinta lah yang membuat sesatu memiliki sosok, memiliki wujud dan tindakan yang kongkret.

Coba saya beri kacamata.

Manusia hanya akan se fana figuran yang berjalan jalan di latar film, ketika tidak ada rasa yang ditaruh disana (saya bilang figuran, karena aktor utama dalam film pun bisa mendapatkan cinta). Orang yang sedang kecelakaan, motornya mogok, meminta minta, terjatuh dijalan, ketika kita tidak menaruh rasa, hanya akan menjadi latar dari kehidupan kita, atau setidaknya menjadi bahan obrolan untuk dibagi, sebatas itu.

Kita bisa memilih untuk mencintai, cinta bukan lah kekang, cinta ada sebuah predikat yang dengan sesukanya bisa diarahkan oleh subjek terhadap objek. Bukan sebaliknya.

Atau itu juga salah?

Atau jangan-jangan, terjadi peputaran pemikiran yang terus berputar-putar tentang apakah cinta atau sosok yang muncul terlebih dahulu hingga kita menjadi kebingungan, dan yang ada hanyalah ‘aku mencintai mu tanpa alasan’ yang sebenarnya bukan tanpa alasan, tapi hanya sebatas kebingungan, karena kita memilih cinta dan dipilih olehnya

We make Tumblr themes